* ARSIP ASERO *
Situs ini menampilkan artikel tentang Ajibata Parapat dan sekitarnya di dalam satu website.Kritik dan Saran kirim melalui email ke ASERO ADMIN

AISOISE
Yang ini tempat databasenya ASERO ADMIN

ARSIP

  • November 2003
  • December 2003
  • January 2004

  • LINK

    ASERO

    template by:
    :: maystar * designs ::


    maystar * designs

    Sunday, December 14, 2003

    Bupati Tobasa Resmikan Rumah Doa di Balige
    Balige (SIB)

    Bupati Toba Samosir Drs Sahala Tampubolon mengakui, Kabupaten Tobasa kaya akan wisata alam dan wisata rohani. Namun sampai saat ini wisata rohani yang ada di kabupaten Tobasa Samosir belum ditangani secara intensif dan belum menghasilkan dampak ekonomis bagi rakyat. Untuk itu, peran serta para perantau asal Kabupaten Tobasa sangat perlu guna mengangkat wisata dan membangun di Kabupaten Toba Samosir.

    Hal itu dikatakan Bupati Toba Samosir Drs Sahala Tampubolon dalam sambutannya pada acara peresmian Rumah Doa di Desa Gur-Gur Kecamatan Balige Kabupaten Tobasa, Senin. Turut hadir dalam acara tersebut Bupati Tobasa, Laksamana Bonar Simangunsong, para Kadis dan Kakan Kabupaten Tobasa, camat Balige.

    Guna terus menggali serta menghidupkan wisata rohani tersebut, lanjut Bupati Tobasa mengatakan, perlu dukungan modal yang cukup memadai dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional dan terampil yang diiringi keimanan dan ketaqwaan yang tinggi. Persoalan yang saat ini mewarnai potret buram kehidupan ketatanegaraan kita adalah timbulnya berbagai konflik horizontal dan timbulnya gerakan fundamentalis keagamaan yang bernuansa Sara yang secara sadar atau tidak sadar sengaja atau tidak sengaja telah menjadi mesin pembantaian bagi umat manusia yang tidak berdosa.

    Padahal, lanjut Bupati, agama universal dan mengajarkan manusia untuk saling mengasihi, saling menyayangi dan saling membantu tanpa melihat perbedaan Ras. Untuk itu, terjadinya krisis multidimensional ini adalah pelajaran yang dapat kita ambil, bahwa Tuhan memperingati kita. Karena itu kita harus meningkatkan ibadah, ketaqwaan dan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, tutur Tampubolon.

    Sebelumnya Bupati Tobasa juga menjelaskan potensi-potensi yang dimiliki Kabupaten Tobasa yang memiliki luas wilayah daratan 454.345 Ha dan perairan 110.260 Ha yang terdiri dari 19 Kecamatan serta 380 desa dan kelurahan. Dimana Kabupaten Tobasa dengan jumlah penduduk 325.468 jiwa ini memiliki SDA berupa bahan tambang dengan kandungan deposit yang cukup besar seperti batu kapur, tanah Diatomea, pasirKwarsa, belerang Kaolin, Guano.

    Pada kesempatan tersebut, Bupati Tobasa Drs Sahala Tampubolon menyampaikan ucapan terima kasih kepada Laksamana Bonar Simangunsong dan menyambut baik pembukaan rumah doa sebagai tempat wisata rohani di Desa Gur-Gur Kecamatan Balige. (EMT/p)




    Pelataran Dermaga Kapal Feri Ajibata, Tobasa Tenggelam Ditelan Air Danau Toba
    Ajibata (SIB)

    Pelataran dermaga kapal fery Ajibata Tobasa tenggelam ditelan air Danau Toba, karena naik pasang. Permukaan air Danau Toba naik drastis menyusul curah hujan tinggi sekali beberapa bulan belakangan ini. Sejalan air naik pasang, proyek pelebaran demaga bernilai ratusan juta rupiah, terganggu dan dikuatirkan pekerjaannya menyimpang dari Bestek.

    Kondisi naik pasang air Danau Toba menurut pemantauan wartawan SIB yang berkunjung ke daerah itu, Rabu (10/12) lebih memperparah kerusakan permukaan ruas jalan utama menuju pelabuhan tersebut. Dari pandangan kasat mata, konstruksi parit sudah sama dengan permukaan air, sehingga air limbah tidak mengalir lagi sebagaimana mestinya.

    Tak heran genangan air dari kandungan parit melimpah ke permukaan ruas jalan, sehingga lapisan hotmix terkopek. Sepanjang ruas jalan masuk menuju pelabuhan, penuh lobang akibat endapan air parit yang tak berfungsi lagi. Tak jelas apa dan bagaimanan upaya Pemkab Tobasa untuk menanggulangi kerusakan ruas jalan tersebut.

    Ruas jalan yang seharinya memperlancar arus ekonomi dan kelancaran transportasi dari dan ke daerah tersebut, sesungguhnya mendesak untuk penanganan selanjutnya. Sebab, menurut keterangan diterima SIB, tidak ada instansi yang berkompeten ditempatkan di perbatasan wilayah Tobasa dengan Kabupaten Simalungun itu.

    TERSENDAT

    Pemandangan lebih menyita perhatian saat tertuju kepada kelanjutan proyek pembangunan pelebaran dermaga kapal tersebut. Ditaksir kedalaman air danau naik pasang mencapai setengah meter, untuk sementara bisa pembangunannya tersendat. Apalagi teknologi yang diterapkan tidak memakai fasilitas alat-alat berat canggih.

    Menurut keterangan dikumpulkan dari warga setempat, struktur tanah dasar air danau yang ditembok dengan batu beronjong, sangat labil karena campuran lumpur. Tak bisa dicermati komposisi susunan batu yang diikat dengan kawat beronjong di dalam air.

    Andaikata petugas pengawas proyek bernilai ratusan juta rupiah tersebut lengah mencermatinya, dikuatirkan ketahanan tembok yang dibangun tidak seperti diharapkan. Lebih ironis lagi, proyek pelebaran pelataran dermaga dirancang sebelum air Danau Toba, naik pasang. Bagaimana wujud kelanjutan pembangunan, mengundang tanya bagi warga setempat yang peduli terhadap proyek itu. (E3/s)



    Wednesday, December 10, 2003

    Danau Toba Meluap
    Medan ( Berita Sore)
    Air Danau Toba, Kabupaten Tobasa ( Tobasamusir ), Sumatera Utara, meluap dan menggenangi terminal penyeberangan kapal fery Tiga Balata tujuan Tuktuk dan Tomok di Pulau Samosir, demikian dilaporkan wartawan LKBN Antara dari Danau Toba, Selasa (09/12).

    Ketinggian air pada kawasan pantai danau Toba menurut para warga di seputar kawasan wisata itu bertamah satu hingga satu setengah meter, air meluap ke lokasi penyeberangan fery , rumah penduduk dan kantor polisi.

    Sejumlah warga nampak membersihkan air bercampur lumpur yang menggenangi rumah mereka sejak Senin (8/12) sementara hingga berita ini disiarkan air masih menggenangi kawasan terminal tersebut.

    Terminal tersebut biasanya digunakan sebagai lokasi parkir kendaraan menanti antrian kendaraan yang akan naik ke kapal. Tidak nampak kapal menaikturunkan penumpang dan kendaraan sementara, satu kapal yang sandar di pelabuhan tersebut tidak nampak penumpang hanya satu mobil truk mini menunggu izin masuk ke kapal tersebut.

    Sementara di pos polisi itu nampak seorang pekerja membersihkan genangan air dan membuat saluran air. Banjir air danau Toba menjadikan lokasi pelabuhan kumuh, air Danau Toba diperkirakan akan terus meluap menyusul hampir setiap hari hujan di kawasan tersebut.

    Air danau Toba dalam kondisi normal pada kedalaman sekitar 495 meter dan ketika hujan turun ketinggian air terus bertambah dan meluap menggenangi rumah penduduk. "Ketinggian air Danau Toba sekarang ini mengalami kenaikan satu hingga satu setengah meter,"ujar para warga di seputar kawasan terminal feri tersebut.

    Pantauan LKBN Antaraan hutan pinus yang di pegunungan bukit Barisan yang mengitari danau Toba nampak gundul akibat kegiatan penebangan. Obyek wisata yang ditempuh dari kota Medan selama empat jam perjalanan darat itu kini nampak sepi pengunjung, para calo hotel dan pekerja seks nampak berkeliaran menemui setiap pengendara mobil yang berhenti di lokasi tersebut.

    Tingkat hunian hotel rata-rata hanya 20-30 persen bahkan di hotel Niagara yang merupakan hotel berbintang terbesar di lokasi itu tidak nampak mobil yang parkir.

    Sementara berdasarkan keterangan Satkorlak Pemprop Sumut intensitas curah hujan menjelang pertengahan hingga akhir Desember 2003 berada diatas normal berkisar antara 300 hingga 400 mm per bulan. Bahkan di kawasan Sumut hujan akan turun lebih deras bahkan per hari bisa mencapai 100 mm.

    Ini terjadi sebagai dampak dari meningkatnya suhu udara dingin, gejolak awan tebal di perairan selat Malaka dan perairan Cina Selatan. Bila curah hujan tinggi maka sangat potensial bagi terjadinya banjir dan tanah longsor.

    Pemda Sumut dalam konteks ini sudah menyebarkan surat edaran kepada Pemkab dan Pemko agar mewaspadan banjir dan tanah longsor. Dari 23 daerah tingkat II di Sumut sembilan daerah diantaranya sangat rawan kemungkinan terjadinya banjir bandang.

    Daerah tersebut yakni Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Asahan, Labuhan Batu, Mandailing Natal, Tapanuli Tengah, Tapsel, Nias dan Medan.(ant)



    Pasar Di Kawasan Wisata Danau Toba Kumuh, Pelabuhan Fery Barang Hancur

    Medan ( Berita Sore)
    Pasar Tiga Raja yang berlokasi di kawasan wisata danau Toba, Parapat, Sumatera Utara, dalam kondisi sangat kumuh dan terkesan tidak mendapat penataan khusus dari Pemda kondisinya sangat kontradiktif upaya Sumut menciptakan kebersihan dan kenyamanan bagi wisatawan yang berkunjung ke lokasi itu.

    Para pedagang membangun sendiri kios berdinding kayu dan beratap plastik, masyarakat nampak begitu mudah membuang sampah di sembarang tempat, bila hujan tiba pasar tradisional itu sangat becek dan kumuh, demikian panatauan LKBN Antara dari kawasan danau Toba, Rabu (10/12).

    Tidak ada himbauan larangan membuang sampah sembarangan keadaan ini menjadikan masyarakat khususnya para pedagang yang berjualan aneka ragam keperluan keseharian rumah tangga belum menyadari benar akan pentingnya menjaga kebersihan.

    "Seharusnya Pemda setempat memberikan penyuluhan dan membina para pedagang dan masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, kawasan wisata danau Toba selama ini kan... banyak dikunjung wisatawan dalam dan luar negeri jadi sudah selayaknya masyarakat menjaga kebersihan,"ujar para pelancong asal Medan.

    Keadaan serupa juga terjadi di lokasi penjualan aneka cinderamata, para pedagang yang berjualan pada sisi kiri danau Toba nampak sesuka hati mereka membuang sampah.

    "Di lokasi tersebut setiap hari libur selalu dipadati pengunjung dan menimbulkan kemacetan,"tegas para pedagang.

    Penataan kawasan wisata danau Toba masih memerlukan penanganan serius sehingga mampu menarik dan menimbulkan kesan khusus bagi wisatawan selama mereka berlibur di obyek wisata alam kenamaan nasional itu.

    Hancur
    Pelabuhan Fery pengangkut barang dan kendaraan di kawasan Ajibata Danau Toba, Parapat, Sumatera Utara kondisinya terlihat dalam keadaan hancur dan pada dinding dermaga ditumpuk batu.

    Kondisi pelabuhan fery barang di Danau Toba sepertinya kurang mendapat perhatian dari pihak berwenang, padahal setiap hari ratusan kendaraan keluar-masuk melalui pelabuhan tersebut, demikian hasil pemantauan Antara di Parapat, Rabu.

    Pelabuhan fery Ajibata Danau Toba, merupakan prasarana penting bagi masyarakat yang membawa kendaraan atau barang untuk menuju daratan Pulau Samosir dan selanjutnya menghubungkan transportasi ke Kabupaten Tanah Karo, Dairi dan Toba Samosir.

    Ratusan truk termasuk yang mengangkut kayu tusam dan eucalyptus setiap hari masih memanfaatkan jasa fery besi yang mampu mengangkut sekitar 30 kendaraan dengan ongkos rata-rata sekitar Rp 40.000 sekali menyeberang.

    Sementara dilaporkan tingginya permukaan air Danau Toba akibat setiap hari turun hujan di daerah wisata terkemuka di dunia itu, menggenangi pasar Ajibata dan rumah-rumah penduduk yang terpaksa harus menguras air dari dalam rumahnya.

    Kondisi pasar Tigaraja di pusat kota Parapat, juga dilaporkan kondisinya cukup memprihatinkan jorok dan tidak ditata dengan baik, karena pasar yang menjual berbagai jenis bahan kebutuhan menjadi satu dengan terminal angkutan.(ant)



    Penentuan Plt Bupati Wewenang Pemerintah

    5 Calon Plt Bupati Samosir Disampaikan ke Gubsu


    Balige (SIB)

    Drs LP Sitanggang tokoh masyarakat yang juga pejuang 45 asal Pangururan Kabupaten Tobasa meminta agar jangan ada yang intervensi penentuan calon Plt Bupati Samosir, karena itu adalah wewenang pemerintah. Hal itu dikatakannya Senin (8/12) di Balige ketika diminta komentarnya seputar maraknya isu calon Plt Bupati Samosir yang baru disahkan UU pembentukannya bersama 23 Kabupaten lainnya di seluruh Indonesia.

    Drs LP Sitanggang yang juga Ketua DPD P Golkar Tobasa itu mengakui, akhir-akhir ini sekaitan dengan disahkannya undang-undang pembentukan Kabupaten Samosir, ada pihak-pihak tertentu tidak menyadari tindakannya sudah melakukan intervensi tentang penentuan Plt Bupati Samosir dengan cara merekomendasi nama tertentu. Menurut tokoh P Golkar itu, hendaknya jangan ada yang melakukan intervensi wewenang pemerintah, karena dalam penentuan Plt Bupati kabupaten baru telah ada mekanismenya sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku." Upaya dan partisipasi semua pihak dalam pembentukan Kabupaten Samosir harus dihargai, namun bentuk penghargaannya bukan menentukan siapa Plt Bupati," ujar Drs LP Sitanggang juga mengatakan akan mendukung Plt Bupati Samosir yang ditetapkan pemerintah, walaupun orangnya bukan asal Samosir.

    Tidak Boleh Calon Bupati Definitif

    Telah diberitakan, Gubsu T Rizal Nurdin menegaskan bahwa Plt Bupati Samosir dan Plt Bupati Serdang Bedagai (dua kabupaten baru di Sumut) tidak boleh calon bupati definitif nantinya. Menurut Gubsu, calon Plt Bupati itu diwajibkan membuat surat pernyataan yang isinya tidak akan mencalonkan diri pada pemilihan bupati definitif, hal itu dimaksudkan agar tidak terjadi curi start dalam pemilihan bupati.

    Diperoleh keterangan, dalam pengajuan calon Plt Bupati kabupaten baru, Bupati induk mengajukan sedikitnya 2 calon dan paling banyak 5 calon yang memenuhi syarat seperti kepangkatannya sebagai PNS termasuk penjenjangan dan jabatannya arus eselon II. Gubsu telah menyurati Bupati Tobasa agar mengajukan nama-nama calon Plt Bupati Samosir paling lambat 4 Desember lalu.

    Beredar informasi, memenuhi surat Gubsu yang ditandatangani Sekdapropsu HM Tambusey, Bupati Toba Samosir Drs Sahala Tampubolon telah mengajukan 5 calon Plt Bupati Samosir. Disebut-sebut yang diajukan Bupati Drs Sahala Tampubolon menjadi calon Plt Bupati Samosir masing-masing Drs Parlindungan Simbolon (Sekdakab Tobasa), Drs Wilmar E Simanjorang Msi (Ka Bappeda Tobasa), Drs Manganar Situmorang MM (Kadis Perhubungan Tobasa), Jannes Naibaho SH (Ka BKD Tobasa) dan Drs Tonggo Napitupulu Msi (Asisten I Setdakab Tobasa).

    Bupati Drs Sahala Tampubolon yang dikonfirmasi melalui telepon selularnya Senin sore membenarkan ke 5 calon Plt Bupati Samosir telah disampaikan ke Gubsu. Bupati yang mengaku sedang diperjalanan menuju Medan, membantah kepergiannya terkait dengan calon Plt Bupati Samosir. "Saya ke Medan bukan soal Plt Bupati Samosir, melainkan urusan penyerahan wewenang BKKBN dari Propinsi," ujar Drs Sahala Tampubolon.

    Belum diketahui, apakah Gubsu menseleksi 5 calon yang diajukan Bupati Tobasa untuk seterusnya diajukan ke Mendagri atau Gubsu mengajukan nama lainnya pejabat PNS dari luar Kabupaten Tobasa, sesuai dengan kewenangannya. (G2/d)



    5.000 Warga Samosir akan Hadiri Pesta Olop-olop Terbentuknya Kabupaten Samosir di Pangururan

    Medan (SIB)

    Sejumlah 5.000 warga Samosir baik yang ada di bona pasogit maupun di perantauan akan hadiri Pesta Olop-olop menyambut dan mensyukuri terbentuknya Kabupaten Samosir sebagai pemekaran dari Kabupaten Toba Samosir di Pangururan, Sabtu (20/12).

    Pesta olop-olop tersebut direncanakan juga akan dihadiri Gubsu HT Rizal Nurdin, DPRD Sumut, Bupati Tobasa Drs Sahala Tampubolon, Ketua DPRD Tobasa Bonatua Sinaga dan sejumlah tokoh-tokoh masyarakat Samosir dari Jakarta dan Medan.

    Panitia pesta olop-olop di Medan Drs TP Malau didampingi Ir Drs Frans T Simarmata MT kepada SIB, Selasa (9/12) menjelaskan sesuai dengan hasil rapat panitia yang dipimpin Ir Tagor Lumbanraja dan Drs Robert Naibaho, acara pesta akan difokuskan kepada syukuran. Sekaligus juga akan "mangulosi" Gubsu, Bupati, DPRD dan lainnya sebagai wujud sukacita dan terimakasih dari warga Samosir. Pada acara itu juga mangkuling gondang dan ogung sabangunan serta makan bersama. Para artis dari Jakarta seperti Tetty Manurung dan lainnya sebagai bintang tamu juga akan tampil menghibur warga Samosir.

    Dalam rangka pesta syukuran ini, katanya panitia telah menerima bantuan baik berupa materi maupun dalam bentuk bantuan lainnya seperti Kerbau Lae-lae dari marga Malau Raja sebagai wujud partisipasi mensukseskan pesta olop-olop tersebut.

    Sumbangan seekor kerbau lae-lae ini bagi Malau Raja merupakan simbol syukur atas terbentuknya kabupaten Samosir yang telah diperjuangkan sejak tahun 1964/1965 lalu. Panitia juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan atas terbentuknya Kabupaten Samosir ini.

    Secara khusus disampaikan terima kasih kepada salah seorang putra Samosir yang telah berhasil di Jakarta yaitu Marolop Sinurat SH yang meminjamkan Hotel Sinur menjadi kantor sementara Pemkab Samosir yang berlokasi di Negeri Buhit Kecamatan Pangururan.

    Ir Drs Frans T Simarmata menambahkan, untuk mensukseskan pesta olop-olop ini panitia membentuk pelaksana di bona pasogit yang dipimpin Binton Simbolon (Ap Risma) dengan pengarah Drs TP Malau, AB Sinaga dan Marihot Nainggolan.

    Panitia menyampaikan, pemberitaan ini sekaligus undangan resmi bagi warga Samosir di 9 kecamatan di bona pasogit dan putra-putri Samosir di perantauan. (R7/k)

    Monday, December 08, 2003

    Pulo Samosir : "Pulau Impian yang Tetap Menawan"
    Oleh : Pastor Moses Elias Situmorang OFMCap


    Pulo Samosir adalah asalku, Samosir adalah tempat paling mengagumkan di dunia ini, sawahnya menghasilkan padi yang banyak hingga melintasi wilayah perbukitan yang dipenuhi ternak kerbau. Pulau Samosir tempat asalku yang takkan pernah kulupakan.
    Potongan syair lagu yang ditulis Nahum Situmorang, salah satu komponis lagu-lagu Batak terkenal, hendak menggambarkan kehidupan masyarakat di Pulo Samosir pada dekade tahun 60-an. Saat itu masyarakat masih berpegang teguh pada adat maupun kultur kekerabatan Batak dan bukit-bukit masih penuh dengan pepohonan yang membentuk pemandangan indah mempesona. Tapi kini apa yang dilukiskan dalam lagu tersebut tidak sesuai lagi dengan kenyataan. Pulau yang dikelilingi danau terbesar di Indonesia ini semakin banyak ditinggalkan penduduknya. Ada apa?

    Wilayah Samosir terdiri atas daratan dan kaki bukit yang dikelilingi perairan Danau Toba. Secara administratif wilayah ini berbatasan dengan Kabupaten Simalungun dan Karo di utara dan Toba di timur dan selatan serta Dairi dan Tapanuli Utara di barat. Jumlah penduduk Samosir ada sekitar 129.633 dan sekitar, 1,36 persen berpendidikan setingkat diploma dan sarjana. Pulo Samosir memiliki jalan yang melingkari pulau sepanjang 120 kilometer, namun defacto hanya 44 kilometer yang baik. Sisanya rusak berat. Kondisi sektor pertanian sumber utama penduduk cukup mengenaskan.

    Umumnya pertanian di Samosir masih mengandalkan hujan. Pada musim kemaru anak-anak dan ibu-ibu akan beriringan mengangkat air dari pasir (sebutan masyarakat setempat untuk wilayah Pantai Danau Toba), menjadi pemandangan yang sangat ironis. Dengan gayung petani menyiram tanaman sedikit demi sedikit. Menakjubkan, dari bongkah-bongkah tanah yang kering dan retak-retak tersebut masih tumbuh tanaman tomat yang buahnya biasa saja. Mangga yang pernah dihasilkan daerah ini secara besar-besaran dan memiliki aroma dan rasa tersendiri, kini produksi dan mutunya berkurang. Masalahnya kembali pada tiadanya peremajaan.

    Rumusan paling sederhana dari semua proses ini tidak lain dari menurunnya mutu kehidupan di hampir seluruh wilayah pulau Samosir. Inovasi pertanian berjalan sangat lambat bahkan tidak ada. Pergantian pola tanam hampir tidak ada. Monokulturnya yang hanya bertumpu pada padi tentu sudah bisa diramalkan. Nilai tukar padi yang stabil bahkan cenderung merosot otomatis memukul perekonomian penduduk dari tahun ke tahun. Dan inilah nahas bagi masyarakat Samosir.

    Masyarakat yang dahulu banting tulang, agar bisa menyekolahkan anaknya di kota kini nampaknya tidak mujarab lagi. Hal itu dapat dilihat pada Minggu petang saat anak-anak meninggalkan desa untuk melanjutkan sekolah ke ibukota kecamatan atau kota kabupaten. Wajah mereka tampak lesu, diam, mirip orang yang terserang gejala rendah diri. Dengan bekal setengah karung beras dan ikan asin seadanya, mereka luput dari kelaparan di pemondokan selama beberapa hari. Saat ini banyak orangtua yang rela menyerahkan anaknya menjadi pembantu rumah tangga di kota tanpa memungut imbalan apapun asalkan anaknya dapat disekolahkan.

    PERGOLAKAN KEJIWAAN WARGA SAMOSIR

    Sesungguhnya hampir tidak ada prestasi suku bangsa di Indonesia sepesat apa yang dicapai oleh orang Batak secara khusus yang tinggal di pulau Samosir. Sejarah sosial-ekonomi suku ini baru tercatat sekitar satu abad ke belakang. Sedang apa yang disebut sebagai bentuk pemerintahan, struktur elite dan kultur politik hanyalah garis kecil jika dibandingkan dengan perjalanan kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Mataram atau kerajaan-kerajaan Melayu.

    Berabad-abad lamanya masyarakat Batak yang tinggal di pulau Samosir terkungkung di huta (dusun berdasarkan geneologi) yang tersebar di sekitar kawasan pegunungan. Mereka merupakan unit-unit sosial berdasarkan hubungan darah. Dalam konteks ini Huta di identifikasikan dengan marga. Sehingga setiap menyebut marga dengan sendirinya menyebut kampung halaman leluhurnya. Ibarat jiwa dengan badan, maka demikian hubungannya antara marga dengan huta.

    Migrasi ke daerah pesisir baru dilakukan kemudian seiring dengan mulai tumbuhnya kota di daerah pesisir. Sedang pendidikan modern mulai dikenal ketika kekuasaan kolonial makin mantap pada permulaan abad XX. Akan tetapi kendatipun saat itu pendidikan masih merupakan gejala baru dalam masyarakat Samosir, respon mereka sangat luar biasa. Banyak anak muda kampung yang berangkat ke kota Medan, bahkan sebagian ada yang berangkat ke pulau Jawa. Hanya beberapa tahun saja bersentuhan dengan dunia pendidikan modern, masyarakat Batak mulai mencetak sarjana, pedagang, militer hingga tokoh agama dan seniman. Banyak dari antara mereka yang tampil memegang kendali dan jabatan penting di negara republik Indonesia ini.

    Hanya saja gaung sukses para perantau ternyata hanya terdengar samar-samar di pedesaan. Desa di Pulo Samosir tetaplah desa seperti yang mereka tinggalkan puluhan tahun silam. Hampir tidak ada perubahan yang signifikan dan berarti. Rumah yang dulu ditempati kakek mereka masih tetap seperti sediakala. Hanya sebagian rumah penduduk yang berubah bentuk, sedang selebihnya nampaknya makin rewot dimakan waktu dan rayap.

    Umumnya orang Batak yang dari Samosir, bila sudah berhasil di perantauan akan mengajak orangtuanya ikut mereka tinggal di kota. Sedangkan masalah desa dianggap menjadi tanggungjawab orang yang tinggal di desa yang nota bene kebanyakan dari antara mereka yang gagal dalam pendidikan. Selain itu orang Batak pada umumnya punya pandangan hidup, "di mana kamu berada di situlah kamu bangun kampungmu". Pandangan hidup seperti ini secara langsung pun tak langsung akan mempengaruhi pola pikir masyarakat perantau. Mereka merasa tidak punya kewajiban moral untuk memikirkan kampung halamannya. Sudah demikian para perantau juga sering melarang orang yang tinggal di kampung untuk mengerjakan tanah warisan yang mereka tinggalkan. Tanah tersebut tidak bisa digarap. Dibiarkan terlantar begitu saja. Misalnya tanah-tanah adat yang tersebar luas di pulo Samosir tidak boleh digarap oleh siapapun sebelum dibagi menurut adat yang prosesnya cukup rumit dan memakan banyak waktu karena harus menghubungi semua anggota keluarga.

    Inilah adat dan inilah masyarakat Batak di pulo Samosir yang masih tetap kuat bersendikan pada adat. Kemiskinan yang saat ini berurat berakar dalam hampir setiap kehidupan, tidak membuat mereka terenyuh dan merenungkan kembali makna adat untuk mensejahterakan kehidupan warga. Malah sebaliknya, dalam masyarakat yang beradat ini dikenal pandangan, "lebih baik diambil setan ketimbang kamu yang memperolehnya." Sejenis semangat antisosial yang sangat primitif.

    Tapi lihatlah ketika diselenggarakan pesta adat (biasanya antara bulan Juni-awal Agustus) terutama untuk memindahkan tulang-belulang leluhurnya (mangongkal holi). Para perantau akan pulang ke Samosir dan menghamburkan uang sedemikian banyak. Tidak sedikit dari mereka yang berpesta hingga satu pekan. Apalagi jika tugu-tugu leluhurnya dibangun hingga besarnya ada yang menyerupai candi Borobudur. Tampaknya bagi warga Samosir, kedahsyatan dan posisi sosial-ekonomi mesti diukur dari kemampuannya menyelenggarakan pesta-pesta besar dengan menampilkan berbagai kemewahan semu lainnya. Tidak ada istilah menunduk atau merendah dalam kamus pemikiran orang Samosir. Hal itu dapat diamati antara lain dari tampilan bentuk tugu-tugu orang Batak yang selalu menampilkan pria bertubuh kekar, mata melotot, kumis melintang dan memandang lurus ke depan atau ke atas.

    Sesungguhnya tidak banyak lagi warga yang tertarik untuk bertahan hidup terus di Samosir. Mereka yang berani bekerja keras dan menghadapi tantangan, umumnya memilih merantau. Ide merantau dipengaruhi oleh prinsip yang sudah lama tertanam dalam benak masyarakat Batak "lebih baik bekerja di luar daerah, daripada di daerah sendiri." Merantau mungkin terpaksa dilakukan mengingat dalam diri orang Batak Toba masih kental paham anak niraja (keturunan raja), yaitu jika tak berhasil dalam melakukan sesuatu akan sangat menjatuhkan harkat keluarga. Di sisi lain ada juga anggapan bahwa orang yang tinggal di kampung adalah orang-orang yang hanya mengandalkan otot, sedangkan yang hijrah ke luar daerah adalah mereka yang lebih berkualitas karena mengandalkan otak. Akibatnya sekarang ini desa banyak dihuni orang-orang jompo dan anak-anak. Ada juga yang terpaksa tinggal di desa karena merasa gagal di kota dan kebanyakan dari mereka yang kembali membuat keributan saja. Dibalik kemiskinan yang membalut ini, di Samosir judi dan peredaran ganja sedemikian marak. Aneh. Tapi mungkin disinilah salah satu problematik yang dihadapi warga Samosir.

    MEMBANGUN MASA DEPAN SAMOSIR DENGAN "KABUPATEN DAN PERADABAN BARU"

    Keindahan setiap sudut Danau Toba, deretan perbukitan yang ditumbuhi pohon pinus dan masih luasnya lahan kosong yang bisa dijadikan sebagai daerah pengembangan dan pertanian modern itulah yang menjadi pesona Samosir. Peninggalan benda-benda purbakala dan masih terpeliharanya musik tradisional Batak berupa gondang dan uning-uningan serta Sigale-gale, merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Kekayaan yang merupakan anugerah istimewa ini bila dikelola secara profesional akan mampu melahirkan rasa takjub yang luar biasa.

    Lihat misalnya ketika stasiun televisi Indosiar menyiarkan secara langsung Misa Paskah dari Gereja Katolik Inkulturatif Pangururan pada bulan April 2003 lalu, banyak orang yang menyaksikan terpesona dan terkesima melihat keagungan dan kesakralan liturgi yang didalamnya "beberapa unsur budaya Batak" dimasukkan seperti gondang dan uning-uningan Batak. Tentu Indosiar memiliki perhitungan tersendiri mengapa Samosir dipilih dari sekian banyak daerah Kristen yang ada di Indonesia. Datanglah ke Lumban Naganjang-desa Pardomuan Nauli, di sana sejauh mata memandang terbentang ladang rumput (di sana akan kita temui bapak Turnip yang memiliki ratusan ekor kerbau, lembu, domba dan sekian hektar kebun kopi). Dari Lumban Naganjang lihatlah juga desa Salaon Dolok dan Ronggur ni Huta. Di daerah ini terbentang hutan alami, pinus dan eukaliptus.

    Bila ingin menikmati aslinya madu (dan terlebih mau membudidayakannya) datanglah ke Lobutua, kecamatan Palipi. Dan bila ingin merasakan cita rasa mangga udang yang sebenarnya, datanglah ke Lontung. Di sisi lain para penenun ulos (juga uis Karo dan Simalungun) yang kebanyakan tinggal di Lumban Suhi-suhi masih tetap bergiat bahkan salah satu ulos hasil tenunan Nai Marudut boru Situmorang, puteri Lumban Suhi-suhi, kini disimpan di museum Vatikan, museum terbesar di dunia. Di daerah Onan Runggu dan sekitarnya kita akan mendengar suara yang mengalun merdu menjelang senja atau pada malam hari di kedai tuak. Masih banyak potensi lain yang ada di Samosir yang bila digali dan dikelola secara profesional akan mampu membawa orang-orang Samosir ke luar dari peta kemiskinan.

    Melihat potensi yang ada di Pulau Samosir yang selama ini kurang diperhatikan, maka tuntutan mayoritas masyarakat Samosir agar segera melepaskan diri dari kabupaten Toba Samosir, dapat dimaklumi. Ketidakpuasan atas kondisi pembangunan di Samosir adalah salah satu alasan untuk berpisah secara baik-baik dari kebupaten induk. Selama ini Samosir seakan terluput dari perhatian. Birokrasi yang berbelit dan juga korupsi yang merajalela membuat keadaan di Samosir semakin terpuruk. Dengan pembentukan kabupaten baru, kran aliran modal dan bantuan dari para perantau Samosir akan lebih cepat mengalir. Dan apalagi kalau pemimpinnya seorang yang jujur dan berkualitas (usulan kepada warga Samosir : "kalau mau dan berlapang dada angkatlah seorang pastor atau pendeta yang berwawasan internasional menjadi bupati di Samosir, besar kemungkinan tingkat kebocoran korupsi dalam segala hal akan bisa ditekan).

    Satu hal penting yang mesti diperhatikan dalam rangka membawa orang Batak di Pulau Samosir keluar dari keterpurukan adalah dengan mendidik masyarakat sendiri agar mampu menghargai segala sesuatu. Kurang mampu menghargai inilah semacam ‘trend’ yang muncul di banyak kalangan masyarakat Samosir. Hal itu tampak misalnya dari sarana umum yang kurang terpelihara dengan baik. Mental meminta mesti dikikis habis dari benak masyarakat dan diganti dengan usaha mengajak kerja keras dan kemauan untuk terbuka akan perubahan pada yang baik dan benar. "Selamat Datang Kabupaten Samosir." Horas. (Penulis, mantan frater dan kini bertugas sebagai seorang pastor. Tinggal di pastoran Katolik Santo Mikael Jl. Uskup Agung Sugiyopranoto no. 1 Pangururan-Samosir Nauli/l)




    Pesta Olop-olop Atas Terbentuknya Kabupaten Samosir di Pangururan
    Jakarta (SIB)

    Lembaga Pemberdayaan Samosir (Lemdayasa) akan menyerahkan bantuan berupa alat bantu pendidikan senilai Rp 120 juta yang dihimpun dari masyarakat perantau asal Samosir beberapa waktu lalu. Direncanakan, penyerahan akan dilakukan Sabtu, 20 Desember 2003 yang akan datang di Pangururuan bersamaan dengan pesta olop-olop atas terbentuknya Kabupaten Samosir. Penyerahan bantuan menjadi bagian dari acara tersebut. Demikian dikemukakan Ketua Umum Lemdayasa Luhut Simbolon di Jakarta, Sabtu (6/12).

    Luhut Simbolon yang didampingi penasehat Ir Robert Naibaho MSc dan kepala bidang kajian Washinton Simbolon MM mengatakan, dana yang terkumpul dari kegiatan Malam Dana di Hotel Indonesia beberapa waktu lalu sebesar Rp 120 juta semuanya disumbangkan ke SMP dan SMU yang ada di Samosir dalam bentuk barang.

    Adapun jenis barang yang akan disumbangkan berupa 33 unit komputer Pentium II, 2 unit marching band, 25 unit mesin tik, 200 kursi, 25 unit perlengkapan bola volley, 500 eksemplar buku dari berbagai judul serta penambahan WC SMP Negeri I Pangururan. Saat ini barang-barang tersebut sudah sampai di Samosir. "Barang-barang tersebut sudah berada di Pangururan. Kursi dan marching band bahkan sudah dibagikan ke SMP Neg I dan SMA Negeri I Pangururan," ujar Luhut.

    Sementara itu, penasehat yayasan Ir Robert Naibaho MSc menjelaskan, pemberian bantuan ini adalah wujud nyata kepedulian masyarakat Samosir yang ada di perserahan guna mengatasi dekadensi pendidikan. "Kami berusaha memfasilitasi masyarakat dalam upaya pemberdayaan Samosir. Ternyata sangat direspons oleh perantau asal Samosir," ujar Robert.

    Ir Robert Naibaho juga mengungkapkan, bantuan ini awalnya adalah gagasan dari Bapak Mahidin Simbolon. Ternyata, keprihatinan sekaligus keinginan Pak Mahidin untuk meningkatkan pendidikan di Bonapasogit tersebut juga dirasakan para tokoh masyarakat perantau asal Samosir, antara lain Tagor Lumbanraja, Parna Raya, Manaek Sinaga, Drs Robert Simbolon MPA, Drh Allen Marbun, Djaisorba Sihotang serta Johannes Sitanggang. "Ternyata mereka sangat rindu membangun kampung halaman dan langsung nyumbang. Bahkan mereka bersedia memfasilitasi Lemdayasa mencari bantuan pihak ketiga demi pembangunan Samosir," ujar Robert.

    Karena acara penyerahan bantuan sekaligus juga acara olop-olop (syukuran) pembentukan Kabupaten Samosir, direncanakan bantuan secara simbolis akan diserahkan oleh Gubernur Sumatera Utara H T Rizal Nurdin. Selain dihadiri para tokoh masyarakat perantauan asal Samosir, pengurus Lemdayasa yang terdiri dari Drs Luhut Simbolon (ketua), Josmar Naibaho (sekretaris), Drs Washinton MM (pusat kajian) dan Jonner Simbolon juga akan hadir.(Jos/m)




    Pesta Budaya Batak Momentum untuk Lebih Mencintai Budaya Batak

    Sianjur Mula-mula(SIB)

    Ketua DPR RI Ir Akbar Tanjung mengharapkan melalui Pesta Budaya Batak dapat menjadi momentum untuk dapat lebih mencintai budaya Batak yang sarat dengan nilai-nilai, yang dapat menjadi dasar filosofi dalam pembangunan masyarakat Indonesia. Melalui Pesta Budaya Batak ini, juga menjadi suatu kesempatan untuk semakin memahami historis budaya Batak yang bermanfaat dalam pembangunan masyarakat yang terus ditumbuh-kembangkan dalam rangka pelestarian budaya itu sendiri.

    Harapan itu disampaikan Ketua DPR RI Akbar Tanjung selaku "hahaniuhum sian pomparan Tatea Bulan" dalam kata sambutannya yang dibacakan Jhon KR Limbong pada Pesta Budaya Batak "ulaon manjalo sangap dohot tua sian Ompungta Mula Jadi Nabolon, marhite Ompungta Raja Batak dohot Ompungta namartua-tua Pusuk Buhit, Ompungta Raja Hatorason nasiat marpangidoan tu Ompungta Mulajadi Nabolon, Ompung Raja Uti" di Sopo Persaktian di Tano Sihelleng Pusuk Buhit Kecamatan Sianjur Mula-mula, Jumat (5/12). Turut hadir pada acara budaya Batak yang dimulai dengan "mandudu" itu, dari Jakarta anggota DPR RI Anton Sihombing beserta ibu, Brigjen Polisi Drs Poltak H Hutadjulu SH MM (Ses Lemdiklat Polri) beserta ibu, Bupati Tobasa diwakili Kepala Kantor Kesbang Kabupaten Tobasa P Panjaitan, Camat Sianjur Mula-Mula, Rihat Hutabarat (Namanuturi), masyarakat Sianjur Mula-mula dan masyarakat dari luar Kabupaten Tobasa.

    Akbar Tanjung yang juga ketua DPP Partai Golkar itu lebih lanjut mengatakan, menyambut gembira dan berbahagia dengan adanya Pesta Budaya Batak berupa ulaon menjalo sangap dohot tua sian Ompungta Mulajadi Nabolon. Budaya Batak yang ditandai dengan dinamika yang tinggi merupakan sesuatu tatanan nilai yang secara filosofi merupakan identitas masyarakat Batak yang hidup secara berkelompok yang diatur dalam konsep "Dalihan na Tolu" atau tiga tungku.

    "Apa yang dilaksanakan dengan adanya Pesta Budaya Batak ini merupakan elementasi totalitas budaya Batak. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar dan budayanya yang beraneka ragam yang teraktualisasi dalam Bhinneka Tunggal Ika. Seperti kata orang bijak yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati nilai-nilai budayanya. Jadi untuk itu, saya selaku "hahaniuhum sian popomparan Tatea Bulan" menghimbau agar seluruh masyarakat Batak di manapun berada agar semakin memahami sejarah budaya Batak. Sekaligus mengimplementasikan dengan cara menindak lanjuti dengan pesta budaya seperti ini,"tutur Akbar Tanjung.

    Sementara itu Bupati Tobasa melalui Kakan Kesbang Kabupaten Tobasa P Panjaitan mengatakan, kiranya dengan adanya Pesta Budaya Batak dapat meningkatkan kunjungan wisata ke Bona Pasogit sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Demikian juga nilai-nilai budaya Batak tidak akan hilang. Selain itu juga kiranya perbedaan-perbedaan bukanlah jadi penghambat pembangunan yang akan dilaksanakan pemerintah.

    Sebelumnya Ketua Panitia Wasington P Limbong mengatakan harapannya kepada pemerintah, kiranya dengan terbentuknya Kabupaten Samosir yang dimekarkan dari Kabupaten Tobasa dan Kecamatan Sianjur Mula-mula sebagai asal mula bangso Batak termasuk di dalamnya, maka nama Kabupaten yang baru tersebut diharapkan bernama Kabupaten Samosir Sianjur Mula-mula.

    PESTA BUDAYA BATAK INI MAHAL HARGANYA

    Sementara itu Anton Sihombing yang turut hadir dalam acara tersebut mengatakan, kiranya Pesta Budaya Batak tetap digelar dan dilestarikan. Karena nilai-nilai yang terkandung didalamnya sangat mahal terutama untuk 3-4 generasi mendatang. Untuk itu kepada pemerintah daerah dalam hal ini Bupati diminta untuk menghidupkan pesta budaya itu.

    "Daerah inikan masuk dalam kabupaten yang baru yakni Kabupaten Samosir. Untuk itu Bupati yang baru untuk menghidupkan budaya ini. Ini mahal harganya. Orang lain seperti Madura, orang Jawa budayanya tetap dipelihara," ujar Anton yang juga Ketua KTI (Ketua Komisi Tinju Indonesia) ini sambil mengatakan sangat terkesan melihat pesta budaya tersebut dan akan mengusahakan untuk datang setiap tahunnya untuk menyaksikan Pesta Budaya Batak ini.

    Untuk itu, kiranya Pemda yang baru nantinya tersentuh nurani dan pemikirannya untuk melestarikannya. Mungkin sekarang belum mahal, tetapi 3-4 generasi budaya ini akan sangat mahal, tutur Sihombing. (EMT/s)



    Friday, December 05, 2003

    Hujan Mengguyur Kecamatan Silaen, Tanggul Aek Bolon Toba Samosir Jebol

    Silaen (SIB)

    Akibat hujan deras yang mengguyur Kecamatan Silaen Kabupaten Toba Samosir Rabu (3/12). Tanggul air "Aek Bolon" sepanjang sekira 8 meter di Desa Huta Namora Dolok Kecamatan Silaen yang dibangun sekitar satu tahun lalu jebol. Akibatnya air sungai yang meluap menggenangi areal persawahan di daerah tersebut.

    Salah seorang warga mengaku bermarga Panjaitan mengatakan, hujan lebat mulai turun sekira pukul 16.00 WIB sampai larut malam. Diduga akibat derasnya hujan yang turun membuat arus air yang mengalir di sungai aek Bolon meningkat pesat dan tidak mampu menampung curah air yang turun. Akibat meluapnya air sungai "Aek bolon" itu sehingga tanggul Aek Bolon yang panjangnya kira-kira 100 meter jebol sekira 8 meter.

    Dikatakannya, tanggul "aek bolon" tersebut beberapa waktu lalu juga pernah bobol akibat meluapnya sungai tersebut. Setelah tanggul tersebut kembali diperbaiki, akibat air hujan yang turun terus menerus, tanggul itu kembali jebol. Dengan jebolnya tanggul tersebut mengakibatkan kerusakan lahan sawah masyarakat. Untuk itu masyarakat Desa Hutanamora mengharapkan pemerintah untuk lebih cepat memperbaiki tanggul tersebut agar kiranya masyarakat dapat memperbaiki lahan yang kena banjir akibat kerusakan tanggul.

    Selain itu, akibat hujan yang turun terus menerus, Rabu (3/12) juga mengakibatkan banjir di jalinsum. Persawahan terlihat tergenang dan beberapa rumah yang letaknya rendah juga tergenang air dengan ketinggian kurang lebih 6 cm. Hingga Kamis siang (4/12) terlihat air masih menggenangi ruas jalan.

    Sementara itu, irigasi yang letaknya juga di Desa Hutanamora tepatnya di Dusun Paranginan sudah hampir 8 tahun lebih tidak berfungsi dan terlantar. Akibat tidak berfungsinya saluran air tersebut, sejumlah sawah masyarakat menjadi terganggu. (EMT/f)



    KPU Samosir Dibentuk Setelah Pemilu

    Balige (SIB)

    Dengan terbentuknya Kabupaten Samosir dan lepas dari Kabupaten induk kabupaten Toba Samosir, Komisi Pemilihan Umun (KPU) Kab Samosir akan dibentuk setelah habis pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu) anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) tahun 2004. Sehingga untuk sementara pelaksanaan pesta demokrasi rakyat yakni pelaksanaan Pemilu Kabupaten Samosir masih tanggung jawab kabupaten induk.

    Demikian dikatakan Ketua Verifikasi Faktual KPU Kab Toba Samosir (Tobasa) Manuala Tampubolon SH menjawab pertanyaan wartawan tentang pelaksanaan pemilu daerah pemekaran di kantor KPU Tobasa di Balige, Rabu (3/12).

    "Pembentukan KPU Kab Samosir ditunda karena pemekaran daerah terakhir ini sudah terlambat ditetapkan pemerintah pusat dari batas maksimum waktu yang diberikan hasil keputusan KPU pusat," kata Tampubolon.

    "Pemerintah pusat sudah diberi ultimatum waktu tentang adanya lagi pemekaran daerah oleh KPU pusat, namun kenyataannya tidak diindahkan sehingga diambil keputusan penanganan Pemilu tahap pertama dilakukan KPU kabupaten induk," ujar Tampubolon.

    Disebutkan, untuk kelancaran pelaksanaan pemilu di Kab Samosir nantinya, kata Tampubolon, kemungkinan hanya dilakukan pembentukan sekretariat KPU saja sedangkan personilnya masih dari sini (KPU Kab Tobasa red). Fasilitas KPU Kab Samosir berupa mobil dinas, sepeda motor dinas beserta anggarannya sudah dititipkan pada KPU Kab Tobasa dan diserahkan nantinya kalau instansi resmi dibentuk.

    Mundur

    Mengenai temuan ada pegawai Negeri Sipil (PNS) menjadi anggota partai politik, Ketua Verifikasi Faktual KPU Kab Tobasa Manuala Tampubolon SH membenarkannya dan mengatakan sudah menyurati Bupati Tobasa Drs Sahala Tampubolon untuk melakukan tegoran ataupun sanksi.

    Namun sudah ada satu orang menyampaikan surat pengunduran diri dari PNS dan memilih terjun ke dunia partai politik yang berasal dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P), kata Tampubolon.

    Menurut Manuala, salah seorang pengurus partai yang mengundurkan diri karena berstatus PNS bernama Kalvin Tambunan, jabatan Ketua PAC PDIP Kec Lumbanjulu. Sedangkan dalam status PNS dengan golongan I c bertugas sebagai guru SMUN 1 Porsea. PNS lainnya, KPU Kab Tobasa hingga sekarang masih menunggu keputusan Bupati Tobasa.

    Sementara itu, Ketua PAC PDIP Kec Lumbanjulu Kalvin Tambunan kepada wartawan di Balige mengatakan keputusan mengundurkan diri dari PNS sudah merupakan tekad bulat dengan memilih terjun ke dunia partai politik karena dirinya tidak mau melanggar peraturan dan merugikan pemerintah. Mudah-mudahan bagi rekan PNS lainnya yang sudah terlanjur masuk partai politik juga harus berani mengambil keputusan untuk memilih antara satu, katanya. (EMT/u)



    Kabupaten Samosir Harus Jadi Kota Wisata
    Agar Bisa Maju


    Pematangsiantar (SIB)

    Agar Kabupaten Samosir yang baru dimekarkan dari Kabupaten Tobasa itu bisa maju, hanya ada dua potensi yang bisa dikembangkan untuk memacu ketertinggalan sekaligus membenahi diri sebagai Kabupaten baru. Pesta budaya yang disebut dengan syukuran yang direncanakan 11 Desember 2003 hendaknya tidak sekedar syukuran, tapi diperlukan komitmen semua elemen masyarakat memajukan daerah itu.

    Hal itu dikemukakan St E Manihuruk, selaku putra Samosir, kelahiran Sibulugoti Parbaba, Kecamatan Pangururan yang kini tinggal di Dolok Hataran Siantar kepada SIB, Rabu (3/12). Disebutkan, potensi yang bisa cepat dikembangkan itu adalah menjadikan Pulau Samosir jadi Kota Wisata dengan membangun sarana pendukung wisata alam, wisata budaya dan wisata buatan. Kemudian mengembangkan pertanian hortikultura.

    Wisata budaya sangatlah potensial. Jika diteliti "Tarombo" Batak, ada sistematik pembagian marga-marga, semisal St E Manihuruk sendiri adalah keturunan dari Raja Isombaon. Dari garis keturunan itu bisa diketahui jenjang generasi yang bersangkutan dari keturunan si Raja Batak, bahkan ada jadi pedoman berupa buku yang ditulis alm Mayjen AE Manihuruk yang berjudul "Toba Nasae" dan buku berjudul "Guru Somalaing dan Modigliani utusan Raja Rom".

    Kini kita sebagai generasi penerus dituntut untuk lebih menguasai budaya Batak, memodifikasinya tanpa menghilangkan makna hakiki sehingga menjadi menarik bagi wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Perlu disosialisasikan secara luas sehingga adat istiadat, budaya Batak serta tarombo Batak bisa jadi komoditi bagi wisatawan, kata Manihuruk. (E5/u)



    Thursday, December 04, 2003

    Mendagri Diminta Segera Tunjuk Penjabat Bupati Samosir

    Jakarta (SIB)

    Pemerintah dalam hal ini Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Hari Sabarno diminta segera menunjuk Penjabat Bupati Kabupaten Samosir guna menghindari manuver politik yang dilakukan oleh kelompok tertentu yang sarat dengan kepentingan. Sementara menyangkut nama Penjabat, sepenuhnya diserahkan kepada Pemerintah, sebab hal ini mutlak wewenangnya.

    Demikian kesimpulan rapat Panitia Pembentukan Kabupaten Samosir yang berlangsung di Jakarta, Selasa (2/12). Rapat tersebut dihadiri secara lengkap oleh Panitia Pembentukan, antara lain, Dr Ir Benny Pasaribu MEc (anggota DPR RI), Sahat Sinaga, Manaek Sinaga, Tagor Lumbanraja, Drs Luhut Simbolon, Ir Robert Naibaho, Jonner Simbolon, Washington Simbolon, Ir Robert Simbolon MPA dan lain-lain.

    Ketua Umum Panitia Pembentukan Kabupaten Samosir Tagor Lumbanraja kembali menegaskan, sesungguhnya, sejak diundangkannya Samosir menjadi Daerah Otonomi baru, tugas Panitia sudah selesai. Selanjutnya untuk urusan administratif pemerintahan termasuk menunjuk Pejabat Bupati adalah wewenang pemerintah (eksekutif) sebagaimana diamanatkan Undang-undang. Oleh karena itu, Tagor Lumbanraja meminta kepada semua pihak supaya dapat menerima siapapun yang akan ditunjuk pemerintah menjadi Penjabat Bupati Samosir. "Semua pihak agar tidak memaksakan kehendak dan dapat menerima siapapun yang ditunjuk Pemerintah sebagai Penjabat Bupati Pemerintah sudah lebih tahu siapa figur yang tepat untuk memimpin Samosir," ujar Tagor.

    Sementara itu Dr Ir Benny Pasaribu MEc menambahkan, Panitia Pembentukan Kabupaten Samosir baik yang berada di Jakarta, Medan dan Samosir adalah sama. Oleh karena itu segala sesuatu menyangkut Kabupaten Samosir seyogianya disikapi dalam bahasa yang sama. "Yang paling penting bagi masyarakat Samosir adalah bukan siapa Penjabat Bupatinya, akan tetapi bagaimana pemekaran ini dapat membawa kesejahteraan bagi rakyat, ujar Benny.

    Benny juga mengingatkan agar jangan kiranya pembentukan Kabupaten Samosir menjadi ajang perebutan kekuasaan yang dapat memicu gejolak atau perpecahan di tengah masyarakat.

    PESTA OLOP-OLOP

    Sementara itu, dalam rapatnya, Panitia Pembentukan Samosir juga memutuskan menggelar Pesta Olop-Olop tanggal 20 Desember 2003 di Pangururan. Adapun Panitia diketuai Tagor Lumbanraja. Susunan lengkap panitia terdiri dari Penasehat Dr Ir Benny Pasaribu MEc, Marihal Simbolon (Parna Raya), Ferdinand Nainggolan, Sahat Maruli Sinaga, Manaek Sinaga, Kol (Purn) P Harianja , Ricson Simarmata, HR Sitanggang dan Bona Tua Sinaga.

    Sekretaris/Bendahara Ir Robert Naibaho dibantu Luhut Simbolon dan Jonner Simbolon. Sementara panitia pengarah terdiri AB Sinaga, TP Manalu, Marihot Nainggolan dan Thomson Frans Simarmata. Sedangkan Ketua Pelaksana dipercayakan kepada Biston Simbolon (A Risma) yang akan dibantu beberapa seksi yang akan dibentuk kemudian. Panitia Pelaksana di Samosir nantinya akan mengikut-sertakan wakil-wakil dari setiap kecamatan yag ada di Samosir. (H1/Jos/s)